Saat kafan menutup wajah
Saat papan menutup liang kubur
Saat tanah menutup rongga nafas
Tak kurasakan lagi dinginnya kubur
Pengapnya udara dan derai isak tangis mengiring
Tetes-tetes air hujan
Butiran-butiran tanah
Semerbak wangi Kemboja
Semuanya hanya pelengkap
Menyisakan berbagai kenangan diatasku
Teringat…
Sejuta dosa pada orang-orang yang kusakiti hatinya
Dan segudang harapan orang-orang yang kutinggalkan
Dan aku…
Hanya bisa menghitung
Sejuta mimpi yang belum terwujud
Seumbar janji yang belum terpenuhi
Selaksa maaf yang belum terucapkan
Dan segenggam cinta yang belum sempat kutitipkan
Disini…
Menunggu datangnya malaikat kubur
Ingin ku memutar kembali roda hidup
Tapi…
Semua sudah terlambat
Kesempatan itu sudah tiada
Kini…
Tak ada yang menemani
Selain hatiku yang rindu menyebut nama-Mu
Bandung, 16 oktober 2003, pukul 14.57 WIB
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusDi kala tanah nan pekat menutupi ragamu
BalasHapusDi kala kelopak bunga menari-nari di atas jasadmu
Di Kala tetesan hujan menemani kehampaanmu
Di kala semua pilu meratapi kepergianmu
Di kala sosokmu menjadi sebuah elegi
Di kala perasaanku hanyalah nista belaka
Aku di sini
Berdiri di depan mahligaimu
Memandang nisan
Yang terukir namamu
Yang terukir hari dukamu
Yang membuat penyesalan jadilah tak berarti
Yang membuat kebahagiaan jadilah harapan semu
Tanpa kuhendaki, pipiku t'lah digenangi air mata
Dan kusadari
Air mata itu adalah.......
air mata bahagia
Bandung, 25 Januari 2011, pukul 19.16 WIB
(puisi seorang pembunuh) hahahaha
di puisi bapak, ceritanya siapa yang mati??
saya ucapkan, "innalillahiwainnailaihirojiun.. Semoga diterima di sisi-Nya." =))
Udah pak, jangan dipikirin puisi saya mah... Puisi amatiran.. Cuma sekedar iseng.. :))
Maap, ada yang salah di postingan sebelumnya. (peace, pak!)