Senin, 24 Januari 2011

Kematian...


Saat kafan menutup wajah
Saat papan menutup liang kubur
Saat tanah menutup rongga nafas
Tak kurasakan lagi dinginnya kubur
Pengapnya udara dan derai isak tangis mengiring

Tetes-tetes air hujan
Butiran-butiran tanah
Semerbak wangi Kemboja
Semuanya hanya pelengkap
Menyisakan berbagai kenangan diatasku
Teringat…
Sejuta dosa pada orang-orang yang kusakiti hatinya
Dan segudang harapan orang-orang yang kutinggalkan

Dan aku…
Hanya bisa menghitung
Sejuta mimpi yang belum terwujud
Seumbar janji yang belum terpenuhi
Selaksa maaf yang belum terucapkan
Dan segenggam cinta yang belum sempat kutitipkan

Disini…
Menunggu datangnya malaikat kubur
Ingin ku memutar kembali roda hidup
Tapi…
Semua sudah terlambat
Kesempatan itu sudah tiada
Kini…
Tak ada yang menemani
Selain hatiku yang rindu menyebut nama-Mu

Bandung, 16 oktober 2003, pukul 14.57 WIB

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Di kala tanah nan pekat menutupi ragamu
    Di kala kelopak bunga menari-nari di atas jasadmu
    Di Kala tetesan hujan menemani kehampaanmu
    Di kala semua pilu meratapi kepergianmu
    Di kala sosokmu menjadi sebuah elegi
    Di kala perasaanku hanyalah nista belaka
    Aku di sini
    Berdiri di depan mahligaimu
    Memandang nisan
    Yang terukir namamu
    Yang terukir hari dukamu
    Yang membuat penyesalan jadilah tak berarti
    Yang membuat kebahagiaan jadilah harapan semu
    Tanpa kuhendaki, pipiku t'lah digenangi air mata
    Dan kusadari
    Air mata itu adalah.......
    air mata bahagia

    Bandung, 25 Januari 2011, pukul 19.16 WIB

    (puisi seorang pembunuh) hahahaha
    di puisi bapak, ceritanya siapa yang mati??
    saya ucapkan, "innalillahiwainnailaihirojiun.. Semoga diterima di sisi-Nya." =))

    Udah pak, jangan dipikirin puisi saya mah... Puisi amatiran.. Cuma sekedar iseng.. :))

    Maap, ada yang salah di postingan sebelumnya. (peace, pak!)

    BalasHapus